Kejadian ini bermula pada saat adikku menginjak umur 5 tahun . Aku merasa tersisih tak ada lagi waktu untukku , tak ada lagi perhatian penuh kepadaku , tak ada lagi kecupan manis di pipiku , tak ada lagi yang mengajariku belajar , tak ada lagi yang mengajakku pergi kemana – mana . Aku tahu umurku sudah 12 tahun tapi aku masih membutuhkan kasih sayang , aku tahu sekarang perhatia kalian sudah terbagi dua aku dan adikku . Jika aku membayangkan masa kecilku sangat indah bermain , belajar , perhatian semuanya penuh kepadaku , di keccup , di peluk . Bagiku kejadian di masa kecil itu adalah pengalaman yang tak terlupakan selamanya.
Mengapa ia harus lahir , mengapa dia merebut semua kebahagiaanku , semua perhatianku . Adikku selalu menyakitiku selalu menghinaku . Ayah dan ibuku tak pernah mengerti kemarahanku adalah ungkapan perasaanku ungkapan akan aku yang haus akan kasih sayang, yang haus akan perhatian yang dulu mereka berikan kepadaku .
Pada suatu hari kami akan berjalan – jalan. Mereka selalu meminta pendapat adik, tak pernah aku. Mengapa selalu dia , dia , dan dia. Aku ini anak kalian juga, anak kandung kalian. Aku juga darah daging kalian . Kadang jika aku melihat temanku yang selalu diperhatikan oleh orang tuanya, aku merasa iri . Ayah ibu dengarkanlah aku, dengarkan anakmu ini .
Kalian tak pernah menanyakan hasil ulanganku , bagaimana pelajaranku di sekolah . Memang bagi kalian itu tidak perlu, tapi bagiku itu sangat aku butuhkan. Aku butuhkan sebagai bukti kasih sayang kalian . Jujur aku lebih nyaman berada di rumah orang lain daripada di rumahku sendiri . Kalian tak pernah tahu atau pun mencari tahu kenapa tak pernah ada senyuman di wajahku. Tak pernah ada keceriaan diwajahku .
Kalian tak pernah tahu bagaimana perasaanku. Apakah aku sedih atau senang, tak pernah kalian mengerti itu . Aku melihat kalian lebih memberikan perhatian kepada orang lain dibandingkan anak kandungnya, anak pertamanya, darah dagingnya . Oh, Tuhan mengapa aku semalang ini. Mengapa Engkau biarkan aku begini ?
Aku senang hidup berkecukupan. Aku senang punya adik. Aku senang punya teman bermain. Tapi aku tak senang bila ia merebut kasih sayang itu . Kasih sayang yang telah aku miliki bertahun – tahun lamanya, direbut begitu saja olehnya
Ketika libur aku memutuskan untuk pergi ke rumah nenek . Di rumah nenek rasanya damai dan tenang . Tak ada lagi omelan… tak ada lagi bentakan . Disana aku mendapatkan apa yang aku inginkan . Rasanya tak ingin pulang tapi aku harus sekolah… aku harus mengejar ketertinggalanku .
Hari ini di sekolah kami diberikan tugas membuat cerpen dan puisi . Kami disuruh memilih salah satu dan akhirnya aku memilih puisi yang bisa menggambarkan perasaanku .
Dengarkanlah aku
Tolong berikan sedikit perhatian kalian kepadaku
Berikan sedikit kasih sayang
Berikan sedikit pelukan
Berikan aku sedikit waktu kalian
Berikan aku solusi atas masalah yang ku hadapi
aku sayang kalian
aku sayang adikku
tapi sekarang aku merasa tersisih
merasa tersaingi olehnya
merasa sedih karena tak diperhatikan lagi
Ayah ibu dengarkan lah aku
Dengarkan tangisan hatiku
Walau hanya dalam sebuah puisi tapi inilah aku yang haus akan kasih sayang kalian
Hari – hari kulalui dengan penuh ketabahan walaupun aku masih sering menangis dalam kesepian . Semua ungkapan perasaanku kuungkapkan dalam beberapa puisi . diantaranya : dengarkanlah aku , tangisan hati seorang anak dan aku menyayangimu tapi jangan rebut itu dariku .
Puisi – puisi itu selalu aku baca jika aku sedang merasakan sedih dan sedang ada masalah . Di balik senyumku terdapat berjuta masalah tersimpan . aku selalu mencoba sabar menghadapi semua ini menghadapi semua masalah ini . sampai suatu saat ketika itu adikku menggangguku istirahatku. Pada saat itu aku baru pulang sekolah ,aku sangat lelah , seluruh badanku sakit . Tanpa sadar aku menyuruhnya pergi dari rumah , kemudian ia menangis dan mengadu kepada ayah dan ibu .
Tiba – tiba ayahku sudah berada di depanku , kemudian langsung menamparku . aku menangis dan berlari masuk ke kamar serta mengunci pintu . Ayahku menggedor pintu, tapi tetap saja tidak aku buka . aku menangis , dan merasa tak sanggup mengalami ini semua . Sampai akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari rumah .
Di dalam kamar aku telah mengemasi seluruh barang – barang yang aku butuhkan . tapi ada suatu keganjalan di hatiku, dan akhirnya aku tak jadi pergi . Akhirnya aku menceritakan semua ini kepada sahabat terbaikku . Aku banyak mendapat banyak saran darinya , dan akhirnya aku menambah tingkat kesabaranku .
Pada suatu hari kami akan pergi jalan – jalan. Ketika aku sedang berpakaian, aku mendengar suara mobil. Aku langsung mengintip ke jendela …tapi ternyata aku di tinggal pergi . Aku sangat kesal dan hampir saja jam tanganku pecah karena aku lempar .
Ternyata hidup itu tak mudah, harus selalu tabah dan sabar . Aku ingin hidupku lebih berarti karena hidup di dunia sementara , tapi aku tak bisa melakukan hal ini .
Hari ini aku bangun agak kesiangan padahal, aku harus melakukan pekerjaan rumah pada pagi hari . Ayahku langsung menyuruhku melakukan perkerjaan rumah seperti : melipat baju dll . Ketika aku sudah selesai melakukan pekerjaan rumah itu aku tidak diberi sarapan dan akhirnya aku makan mie goreng di sekolah .
Ketika berada di sekolah aku tidak konsentrasi untuk belajar . rasanya tiap detik ingin menangis . Tisu sebungkus sudah habis untuk menghadang air mataku . Ayah …Ibu… aku rindu kasih sayang kalian, dan… adik ,kenapa kamu harus lahir . Jika aku berani akan kuungkapkan .
Namun, sayang… semua itu hanya impian belaka. Hal itu tak kan pernah terwujud , Kalaupun itu terwujud, … entah kapan . Aku hanya ingin di berikan perhatian , diberikan kasih sayang . Aku selalu berdoa kepada Tuhan semoga ini cepat berakhir .
Ketika itu aku dan adiku sedang bermain sepeda , tiba – tiba bruk …….. ternyata adikku terjatuh aku tertawa terbahak – bahak dan ia menangis . Ketika aku mau menolongnya ibu sudah berdiri di ambang pintu dan membawa sebuah kursi plastik . tiba – tiba Ibu langsung melemparkan kursi itu kepadaku . Aku berhasil menghindar tapi sepedaku jatuh terhempas dan rusak .
Aku berlari masuk ke dalam kamar . Aku menangis karena dua hal. Yang pertama karena Ibuku tak pernah bisa menyayangiku, dan hal kedua karena sepedaku rusak , padahal sepeda itu tak mudah mendapatkannya . Oh, Tuhan apakah di dunia ini benar – benar tak ada yang menyayangiku . Mungkin akan lebih baik aku tak pernah ada di dunia ini .
Malam ini aku sendiri merenungkan tentang masa kecilku dahulu. Ya, Tuhan apakah masa kecil itu bisa terulang lagi ? Aku masih ingin merasakannya . Dan, pada akhirnya aku memutuskan untuk izin beberapa hari dari sekolah karena aku ingin menenangkan diriku di rumah nenek . Pada saat itu aku mengalami demam yang sangat tinggi dan aku dibawa kerumah sakit tapi bukan dengan nenek tapi oleh bik Iyem orang yang membantu nenek di rumah .
Sewaktu di Puskesmas Bik Iyem bercerita tentang orang tuaku. Katanya, aku itu bukan anak yang di inginkan oleh orang tuaku . mendengar Bik Iyem berkata seperti itu, aku semakin sedih . Hatiku teriris – iris mendengarnya. Kata – kata Bik Iyem selalu terngiang di telingaku . Malam harinya aku menangis dan tak bisa tidur sehingga pada pagi harinya mataku bengkak .
Aku tak mau nenek tahu bahwa mataku bengkak, dan akhirnya aku memutuskan untuk tidak keluar kamar pada saat itu . Aku membuka semua album yang ada di rumah nenekku . Banyak foto yang bergambar aku , Ayahku dan Ibuku . Oh Tuhan, kapan ini bisa kembali lagi seperti semula . Aku berusaha menahan air mataku . besoknya aku kembali pulang ke rumah dan bersekolah .
Aku memohon padamu Tuhan, tolong bimbinglah aku untuk menghadapi segala cobaan dan penderitaan ini . Pada suatu hari aku, menyadari sedikit perubahan sikap ayah kepadaku. Dia mulai memperhatikanku, tapi… mungkin tak sebesar yang dahulu . tapi dari matanya aku belum merasakan apa yang ingin kurasakan selama ini .
Tapi saat itu aku mulai mengerti apa artinya hidup. Mulai mengerti apa itu kesabaran, dan aku akan melakukan itu seumur hidupku . Aku akan melakukan apa yang bisa aku lakukan untuk mengubah perhatian dan kasih sayang kalian kepadaku .
Hari – hari kembali aku lalui dengan keceriaan tapi walupun begitu sikap Ayah dan Ibuku masih tetap saja dingin dan mereka masih memberikan perhatian sepenuhnya kepada adik .
Yang aku inginkan hanyalah perhatianmu , hanyalah kasih sayangmu , berikan aku sedikit waktumu , berikan aku sedikit kecupan , berikan aku sedikit pelukan . hanya itu … hanya itu yang aku minta jika aku berani mungkin akan kuungkapkan semuanya entah kapan . Ayah …Ibu… dengarkanlah aku . Aku mohon jangan pernah bersikap dingin lagi padaku .
Mungkin hanya ini yang ingin aku ungkapkan jika kalian ingin mendengarkanku . walaupun hanya ungkapan perasaan dalam sebuah tulisan tapi tolong dengarkanlah aku .
Rabu, 07 Juli 2010
Kamis, 27 Mei 2010
puisiku untuk ibu
IBU
sejak aku dilahirkan
kau rawat aku dengan kasih
kau bimbing aku dengan sabar
hingga aku besar kini
ibu senyummu membawa kedamaian
sinar matamu penuh kasih
walau letih kau jaga diriku tek sedikitpun engkau mengeluh
ibu setangkai bunga ku petikk untukmu
s'bgai tanda trimakasihku
aku terus berdoa seoga engkau sehat selalu
sejak aku dilahirkan
kau rawat aku dengan kasih
kau bimbing aku dengan sabar
hingga aku besar kini
ibu senyummu membawa kedamaian
sinar matamu penuh kasih
walau letih kau jaga diriku tek sedikitpun engkau mengeluh
ibu setangkai bunga ku petikk untukmu
s'bgai tanda trimakasihku
aku terus berdoa seoga engkau sehat selalu
Pohon Terlarang
Kutengadahkan wajahku ke atas tertarik pada putaran beberapa daun kecoklatan yang berlomba terjun mengikuti keinginan angin. Dedaunan itu berputar-putar seperti membentuk beberapa huruf bersambung menandakan suatu kekaguman akan warna langit yang menjadi latarnya. Putaran demi putaran dedaunan yang berlomba menyentuh tanah dan tersungkur sujud tak kuasa menyusul dedaunan lain yang telah lama sampai. Berserakan mengelilingi pohon kekar tempatku menyandarkan kelelahan keseharianku di sore itu.
Lenganku tersentuh kasar pohon kekar nan kokoh dengan akarnya yang menghujam ke perut bumi. Ia seolah tak kan kalah oleh terpaan angin yang tiap saat menantangnya. Ia seakan takkan takluk oleh cengkaraman sinar mentari yang membakar permukaan bumi tempat akar sombong yang mencengkram tanah dengan sangat kuat.
Aku bangga dengan pohon ini. Pohon favoritku. Hampir tiap sore aku berada di bawah pohon ini. Kenangan memori yang berlatar pohon ini sangat banyak. Di sini aku pandai melangkah berjalan untuk yang pertama kalinya di atas permukaan bumi, menurut cerita ibuku. Di sini aku sering bermain dengan asuhan kakek nenek kala mereka mengunjungiku. Berlari, bernyanyi, dan bercerita segala hal. Tapi mereka sekarang telah tiada. Itu sudah lama sekali. Dan di sini aku selalu bermain dan bercanda dengan adik mungilku yang saat itu baru berumur 4 tahun. Tapi hal itu sudah setahun berlalu. Hanya tinggal kenangan yang membuat aliran air mata duka mengenang keceriaan adikku yang telah tiada.
“Akhh…” kuusap mata air bening di kedua sudut mataku.
Mereka yang tercinta terpatri dalam kenangan memori indah telah tiada bersama bayangan keindahan berlatar pohon rambutan ini.
Aku bangga dengan pohon ini. Selalu ingin berlama-lama rasanya berada di sini.
*******
Malam itu kudengar sayup dari dalam kamar ibu berbicara dengan ayah sehabis kami makan malam. Ayah punya kebiasaan tak beranjak dari meja makan walau rutinitas itu telah selesai dilakukan.
“Besok pohon rambutan tua di belakang rumah itu akan ditebang. Ayah sudah menghubungi beberapa teman yang biasa menebang pohon besar. Mereka menggunakan mesin” ujar ayahku singkat.
“Besok kan ayah kerja” kata ibuku.
“Ayah minta cuti 3 hari, sekalian nanti halaman belakang dibersihkan dari sisa-sisa tebangan pohon.Pohon itu kan besar, jadi mungkin perlu beberapa hari membersihkannya, setelah mereka tebang “ jawab ayahku
Aku pun melepaskan buku catatan fisikaku dan bergegas ke dapur. Mereka berdua memandangku. Wajahku pucat dengan nafas pendek memburu berkejar-kejaran satu helaaan dengan helaan berikutnya. Udara yang keluar dari hidungku terasa panas tak percaya.
“Santi, ada apa…” ujar ibuku melepaskan piring yang sedang dicucinya.
“Ada apa, Nak!” tambah ayahku.
Mulutku terasa terkunci. Ribuan kata di rongga mulutku seakan berebut keluar dan tak mau antri satu per satu. Yang terdengar hanyalah napas pendek dan rongga dadaku yang penuh sesak oleh jutaan tanda tanya.
“Nak, ada apa…?” tanya ayah sambil bergegas menghampiriku yang hanya tiga langkah dari depannya berdiri.
“Bu, ambil air..”
Seteguk air putih mengalir di permukaan lorong kerongkonganku. Membuatku agak lega, dan mulai mengatur napas normal pelan-pelan.
Mereka berdua terdiam dan saling pandang khawatir bercampur takut dan rasa trauma. Pandangan yang pernah kulihat saat adikku menarik napas perlahan dan pendek-pendek mengikuti irama jantungnya yang cepat saat tepat tengah malam setahun yang lalu.
“Nak, bicara…” ibu menguncang tubuhku.
Aku tersentak berusaha menenangkan diri. Sambil menarik napas pelan dan mengeluarkan perlahan.
“Ayah akan menebang pohon rambutan itu” ujarku terbata sambil mengangkat lemah jari telunjuk yang kuarahkan ke sudut ruang dapur tepat pohon itu berdiri.
“Ya, Santi” jawab ayahku singkat.
“Jangan, Yah” ujarku sedih.
“Mengapa, ada apa Santi. Menebang pohon itu biasa. Lagipula Ayah beberapa kali diberitahu oleh orang untuk menebang pohon itu. Pohon itu membawa keburukan bagi keluarga kita. Kamu ingat Santi, dulu kakekmu sakit setelah bermain denganmu di bawah pohon itu menjelang sore. Tiga hari kemudian meninggal. Kemudian menyusul nenekmu yang selalu sakit-sakitan karena tak tahan ditinggal kakek. Pohon itu pohon terlarang ” bela ayah.
“Yah, jangan tebang, Yah… Santi mohon” pintaku lemah.
Ayah hanya diam. Dan berlalu ke kamarnya.
*****
Selama berada di sekolah, perasaanku tak seperti biasanya. Pulang cepat, itu keinginanku. Waktu seolah terasa lama sekali berjalan. Pikiranku hanya terfokus pada pohonku, pohon rambutan kesayanganku.
*****
Kupacu lariku sekuat tenaga, ingin terbang rasanya. Terengah kugapai halaman depan rumah. Penuh selidik langsung perlahan berjalan ke belakang rumah.Dan … ternyata pohon…itupun telah rata dengan tanah.
Pandanganku langsung kabur. Otakku berputar-putar tak menentu. Kugapai dinding dapur rumah dengan tangan kiriku untuk menopang tubuhku yang gontai lemas, tak berdaya. Tubuhkupun berangsur perlahan rata dengan tanah. Gelap…gelap….
*****
Akupun membuka kelopak mata perlahan. Yang pertama kulihat adalah ibuku yang matanya merah berair, tanda ia sudah menangis agak lama. Kemudian ayah dan beberapa orang paman dan bibiku. Terasa muka lengan sikuku sakit. Ternyata di situ ada jarum infus yang mengalirkan cairan bening ke dalam tubuhku. Hidungku ditempeli semacam benda kecil dengan tabung transparan yang bergelembung di sisi kiriku. Ternyata aku telah dua hari di rumah sakit. Sehari kemudian aku keluar.
*****
“Pohon itu pohon terlarang, Santi. Begitu kata orang-orang tua di kampung ini. Coba kamu ingat kepergian adikmu sehari setelah kau ajak bermain di bawah pohon itu. Ia meninggalkan kita sehari setelah itu” ayah berujar saat beberapa hari aku pulang dari rumah sakit.
Setahuku adik dan aku memang hampir setiap hari bermain di bawah pohon itu, apalagi saat pohon itu berbuah. Guru agamaku menjelaskan ajal itu ketentuan Allah. Tak disebabkan faktor lain. Tak ada campur tangan manusia atau makhluk manapun. Tak ada urusan dengan pohon yang kata ayah merupakan pohon terlarang. Yangg jelas aku tak menerima penjelasan ayah sedikit pun. Tapi aku pun tak berani beradu pendapat dengan ayah . Aku memang masih berumur 13 tahun, tapi untuk hal-hal sederhana seperti itu semua orang pun mengerti dan memahaminya. Akupun tak menyalahkan ayahku, mungkin ia terlalu terpukul dengan kepergian adikku.
Hari-hari kulalui dengan tak seriang hari-hari sebelumnya. Sepulang sekolah tak bisa aku berteduh di bawah pohon idolaku. Tak bisa aku membaca sambil melihat tingkah sekelompok burung gereja yang berlompatan memperebutkan makanan mereka. Tak bisa aku merasakan hembusan angin sore mengiringi arakan gumpalan awan putih nun jauh di atas sana. Seharian aku berada di dalam rumah. Aku tak menyalahkan siapa-siapa.
Tiap sore kusaksikan ayah berpeluh harus mengambir air dengan ember besar di tempat yang agak jauh dari rumah. Sumur kami yang terletak tujuh meter dari pohon favoritku kering. Mungkin inilah realisasi teori dari guru biologiku, bahwa pepohonan membantu menyiapkan stok air di dalam tanah. Kasihan kulihat peluh yang membasahi wajah ayah.
*****
Pohon rambutan kesayanganku
Jika musim buah rambutan telah tiba
Kau berbuah lebat buahnya sangat manis dan merah – merah
Pohonmu sangat rimbun
Tempat aku berteduh di saat terik matahari
Tempatku bermain dengan kakek nenek dan adikku
Tempat semua kenangan itu terpatri
Batangmu yang sangat tinggi
Kami gunakan untuk memanjat
Tapi itu adalah kenangan masa dulu
bersama kakek nenek dan adikku
Kini umurmu bertambah tua
Batangmu sangat rawan
Dahan – dahanmu menjulang sangat tinggi
Sehingga kami takut untuh memanjat
Walaupun kau tak bisa ku panjati
Tapi aku masih bisa bersantai di bawah batangmu yang rimbun
Sambil menikmati buahmu yang amat lezat dan manis
Dan mengingat masa lalu ku yang indah
Bersama dengan orang yang aku sayangi
Kubaca ulang puisi yang kutulis semasih duduk di bangku sekolah dasar, saat indah terbayang bersama kakek nenek dan adik mungilku tersayang di bawah pohon rambutan itu. Tapi akhirnya lama-kelamaan kusadari pohon itu bukan pohon terlarang untuk ditebang. Bukan pohon terlarang untuk diratakan dengan tanah . Semua kenangan biarlah selalu hidup di sanubariku lengkap dengan pohonnya. Tapi yang jelas tidak ada hubungan kehilangan orang yang kami cintai dengan pohon itu. Semua urusan Allah. Ayahpun akhirnya bertobat untuk hal itu. Aku bahagia dan tenang.
Tengah malam itu napasku berat, jantungku berdebar cepat. Darahku mengalir cepat diseluruh permukaan nadiku. Kudengar sayup ayah dan ibuku menangis keras memelukku bergantian. Air mata mereka yang hangat, sehangat limpahan sayang yang kurasakan selama ini. Suara mereka semakin keras.
Gelap…
Gelap…
Gelap…
“Kak Santi…Kak Santi…!” suara yang selalu kurindukan sayup terdengar.
Dari kejauhan ….
Adikku berlari kecil meghampiriku, mengajakku bermain di bawah pohon itu. Kurangkul, kupeluk ia erat-erat….
*****
Lenganku tersentuh kasar pohon kekar nan kokoh dengan akarnya yang menghujam ke perut bumi. Ia seolah tak kan kalah oleh terpaan angin yang tiap saat menantangnya. Ia seakan takkan takluk oleh cengkaraman sinar mentari yang membakar permukaan bumi tempat akar sombong yang mencengkram tanah dengan sangat kuat.
Aku bangga dengan pohon ini. Pohon favoritku. Hampir tiap sore aku berada di bawah pohon ini. Kenangan memori yang berlatar pohon ini sangat banyak. Di sini aku pandai melangkah berjalan untuk yang pertama kalinya di atas permukaan bumi, menurut cerita ibuku. Di sini aku sering bermain dengan asuhan kakek nenek kala mereka mengunjungiku. Berlari, bernyanyi, dan bercerita segala hal. Tapi mereka sekarang telah tiada. Itu sudah lama sekali. Dan di sini aku selalu bermain dan bercanda dengan adik mungilku yang saat itu baru berumur 4 tahun. Tapi hal itu sudah setahun berlalu. Hanya tinggal kenangan yang membuat aliran air mata duka mengenang keceriaan adikku yang telah tiada.
“Akhh…” kuusap mata air bening di kedua sudut mataku.
Mereka yang tercinta terpatri dalam kenangan memori indah telah tiada bersama bayangan keindahan berlatar pohon rambutan ini.
Aku bangga dengan pohon ini. Selalu ingin berlama-lama rasanya berada di sini.
*******
Malam itu kudengar sayup dari dalam kamar ibu berbicara dengan ayah sehabis kami makan malam. Ayah punya kebiasaan tak beranjak dari meja makan walau rutinitas itu telah selesai dilakukan.
“Besok pohon rambutan tua di belakang rumah itu akan ditebang. Ayah sudah menghubungi beberapa teman yang biasa menebang pohon besar. Mereka menggunakan mesin” ujar ayahku singkat.
“Besok kan ayah kerja” kata ibuku.
“Ayah minta cuti 3 hari, sekalian nanti halaman belakang dibersihkan dari sisa-sisa tebangan pohon.Pohon itu kan besar, jadi mungkin perlu beberapa hari membersihkannya, setelah mereka tebang “ jawab ayahku
Aku pun melepaskan buku catatan fisikaku dan bergegas ke dapur. Mereka berdua memandangku. Wajahku pucat dengan nafas pendek memburu berkejar-kejaran satu helaaan dengan helaan berikutnya. Udara yang keluar dari hidungku terasa panas tak percaya.
“Santi, ada apa…” ujar ibuku melepaskan piring yang sedang dicucinya.
“Ada apa, Nak!” tambah ayahku.
Mulutku terasa terkunci. Ribuan kata di rongga mulutku seakan berebut keluar dan tak mau antri satu per satu. Yang terdengar hanyalah napas pendek dan rongga dadaku yang penuh sesak oleh jutaan tanda tanya.
“Nak, ada apa…?” tanya ayah sambil bergegas menghampiriku yang hanya tiga langkah dari depannya berdiri.
“Bu, ambil air..”
Seteguk air putih mengalir di permukaan lorong kerongkonganku. Membuatku agak lega, dan mulai mengatur napas normal pelan-pelan.
Mereka berdua terdiam dan saling pandang khawatir bercampur takut dan rasa trauma. Pandangan yang pernah kulihat saat adikku menarik napas perlahan dan pendek-pendek mengikuti irama jantungnya yang cepat saat tepat tengah malam setahun yang lalu.
“Nak, bicara…” ibu menguncang tubuhku.
Aku tersentak berusaha menenangkan diri. Sambil menarik napas pelan dan mengeluarkan perlahan.
“Ayah akan menebang pohon rambutan itu” ujarku terbata sambil mengangkat lemah jari telunjuk yang kuarahkan ke sudut ruang dapur tepat pohon itu berdiri.
“Ya, Santi” jawab ayahku singkat.
“Jangan, Yah” ujarku sedih.
“Mengapa, ada apa Santi. Menebang pohon itu biasa. Lagipula Ayah beberapa kali diberitahu oleh orang untuk menebang pohon itu. Pohon itu membawa keburukan bagi keluarga kita. Kamu ingat Santi, dulu kakekmu sakit setelah bermain denganmu di bawah pohon itu menjelang sore. Tiga hari kemudian meninggal. Kemudian menyusul nenekmu yang selalu sakit-sakitan karena tak tahan ditinggal kakek. Pohon itu pohon terlarang ” bela ayah.
“Yah, jangan tebang, Yah… Santi mohon” pintaku lemah.
Ayah hanya diam. Dan berlalu ke kamarnya.
*****
Selama berada di sekolah, perasaanku tak seperti biasanya. Pulang cepat, itu keinginanku. Waktu seolah terasa lama sekali berjalan. Pikiranku hanya terfokus pada pohonku, pohon rambutan kesayanganku.
*****
Kupacu lariku sekuat tenaga, ingin terbang rasanya. Terengah kugapai halaman depan rumah. Penuh selidik langsung perlahan berjalan ke belakang rumah.Dan … ternyata pohon…itupun telah rata dengan tanah.
Pandanganku langsung kabur. Otakku berputar-putar tak menentu. Kugapai dinding dapur rumah dengan tangan kiriku untuk menopang tubuhku yang gontai lemas, tak berdaya. Tubuhkupun berangsur perlahan rata dengan tanah. Gelap…gelap….
*****
Akupun membuka kelopak mata perlahan. Yang pertama kulihat adalah ibuku yang matanya merah berair, tanda ia sudah menangis agak lama. Kemudian ayah dan beberapa orang paman dan bibiku. Terasa muka lengan sikuku sakit. Ternyata di situ ada jarum infus yang mengalirkan cairan bening ke dalam tubuhku. Hidungku ditempeli semacam benda kecil dengan tabung transparan yang bergelembung di sisi kiriku. Ternyata aku telah dua hari di rumah sakit. Sehari kemudian aku keluar.
*****
“Pohon itu pohon terlarang, Santi. Begitu kata orang-orang tua di kampung ini. Coba kamu ingat kepergian adikmu sehari setelah kau ajak bermain di bawah pohon itu. Ia meninggalkan kita sehari setelah itu” ayah berujar saat beberapa hari aku pulang dari rumah sakit.
Setahuku adik dan aku memang hampir setiap hari bermain di bawah pohon itu, apalagi saat pohon itu berbuah. Guru agamaku menjelaskan ajal itu ketentuan Allah. Tak disebabkan faktor lain. Tak ada campur tangan manusia atau makhluk manapun. Tak ada urusan dengan pohon yang kata ayah merupakan pohon terlarang. Yangg jelas aku tak menerima penjelasan ayah sedikit pun. Tapi aku pun tak berani beradu pendapat dengan ayah . Aku memang masih berumur 13 tahun, tapi untuk hal-hal sederhana seperti itu semua orang pun mengerti dan memahaminya. Akupun tak menyalahkan ayahku, mungkin ia terlalu terpukul dengan kepergian adikku.
Hari-hari kulalui dengan tak seriang hari-hari sebelumnya. Sepulang sekolah tak bisa aku berteduh di bawah pohon idolaku. Tak bisa aku membaca sambil melihat tingkah sekelompok burung gereja yang berlompatan memperebutkan makanan mereka. Tak bisa aku merasakan hembusan angin sore mengiringi arakan gumpalan awan putih nun jauh di atas sana. Seharian aku berada di dalam rumah. Aku tak menyalahkan siapa-siapa.
Tiap sore kusaksikan ayah berpeluh harus mengambir air dengan ember besar di tempat yang agak jauh dari rumah. Sumur kami yang terletak tujuh meter dari pohon favoritku kering. Mungkin inilah realisasi teori dari guru biologiku, bahwa pepohonan membantu menyiapkan stok air di dalam tanah. Kasihan kulihat peluh yang membasahi wajah ayah.
*****
Pohon rambutan kesayanganku
Jika musim buah rambutan telah tiba
Kau berbuah lebat buahnya sangat manis dan merah – merah
Pohonmu sangat rimbun
Tempat aku berteduh di saat terik matahari
Tempatku bermain dengan kakek nenek dan adikku
Tempat semua kenangan itu terpatri
Batangmu yang sangat tinggi
Kami gunakan untuk memanjat
Tapi itu adalah kenangan masa dulu
bersama kakek nenek dan adikku
Kini umurmu bertambah tua
Batangmu sangat rawan
Dahan – dahanmu menjulang sangat tinggi
Sehingga kami takut untuh memanjat
Walaupun kau tak bisa ku panjati
Tapi aku masih bisa bersantai di bawah batangmu yang rimbun
Sambil menikmati buahmu yang amat lezat dan manis
Dan mengingat masa lalu ku yang indah
Bersama dengan orang yang aku sayangi
Kubaca ulang puisi yang kutulis semasih duduk di bangku sekolah dasar, saat indah terbayang bersama kakek nenek dan adik mungilku tersayang di bawah pohon rambutan itu. Tapi akhirnya lama-kelamaan kusadari pohon itu bukan pohon terlarang untuk ditebang. Bukan pohon terlarang untuk diratakan dengan tanah . Semua kenangan biarlah selalu hidup di sanubariku lengkap dengan pohonnya. Tapi yang jelas tidak ada hubungan kehilangan orang yang kami cintai dengan pohon itu. Semua urusan Allah. Ayahpun akhirnya bertobat untuk hal itu. Aku bahagia dan tenang.
Tengah malam itu napasku berat, jantungku berdebar cepat. Darahku mengalir cepat diseluruh permukaan nadiku. Kudengar sayup ayah dan ibuku menangis keras memelukku bergantian. Air mata mereka yang hangat, sehangat limpahan sayang yang kurasakan selama ini. Suara mereka semakin keras.
Gelap…
Gelap…
Gelap…
“Kak Santi…Kak Santi…!” suara yang selalu kurindukan sayup terdengar.
Dari kejauhan ….
Adikku berlari kecil meghampiriku, mengajakku bermain di bawah pohon itu. Kurangkul, kupeluk ia erat-erat….
*****
Langganan:
Postingan (Atom)



