I Fell so happy now because i be a finalis in Writing Competition*sok inggris
Kaget saat tau kabar kalo aku terpilih jadi finalis di lomba LMC SMP ini unpredictable!!! huahhh gak nyangka saat tau kabar itu .
Dan sekarang aku sedang mempersiapkan tujuh cerita singkat yang menceritakan tentang hidup kita secara singkat , padat dan jelas. Butuh perjuangan untuk buat cerita singkat kayak gini . Apalagi di sekolah sekarang sedang MUSIM ULANGAN errrghh... so hate that!! , but i just wanna enjoy that . Tanggal 09 oktober 2012 aku berangkat ke puncak daerah Bogor yeayy love that ! it's will be my first time go to there . Tapiiii aku harus mengikuti MID susulan di sekolah huahhh very sad T^T . Tapi inilah yang namanya PENGORBANAN tadi hehehe. MAu baca cerpen yang aku lombakan . Silahkan lihat dibawah ini*iklan
Jelek harap maklum yah ^^
Pohon
Terlarang
![]() |
Oleh :
Lies Ramadhanty
PEMERINTAH
KABUPATEN BELITUNG
SMP
NEGERI 2 Tanjungpandan
Jln.
Kapten Saridin No.07 Tanjungpandan , Belitung kode pos 33414 telepon
0719(22770)
Kutengadahkan wajahku ke atas
tertarik pada putaran beberapa daun kecoklatan yang berlomba terjun mengikuti
keinginan angin. Dedaunan itu berputar-putar seperti membentuk beberapa huruf
bersambung menandakan suatu kekaguman akan warna langit yang menjadi latarnya.
Putaran demi putaran dedaunan yang berlomba menyentuh tanah dan tersungkur
sujud tak kuasa menyusul dedaunan lain yang telah lama sampai. Berserakan
mengelilingi pohon kekar tempatku menyandarkan kelelahan keseharianku di sore
itu.
Lenganku tersentuh kasar pohon
kekar nan kokoh dengan akarnya yang menghujam ke perut bumi. Ia seolah tak kan
kalah oleh terpaan angin yang tiap saat menantangnya. Ia seakan takkan takluk
oleh cengkaraman sinar mentari yang membakar permukaan bumi tempat akar sombong
yang mencengkram tanah dengan sangat kuat.
Aku bangga dengan pohon ini. Pohon
favoritku. Hampir tiap sore aku berada di bawah pohon ini. Kenangan memori yang
berlatar pohon ini sangat banyak. Di sini aku pandai melangkah berjalan untuk
yang pertama kalinya di atas permukaan bumi, menurut cerita ibuku. Di sini aku
sering bermain dengan asuhan kakek nenek kala mereka mengunjungiku. Berlari,
bernyanyi, dan bercerita segala hal. Tapi mereka sekarang telah tiada. Itu
sudah lama sekali. Dan di sini aku selalu bermain dan bercanda dengan adik
mungilku yang saat itu baru berumur 4 tahun. Tapi hal itu sudah setahun
berlalu. Hanya tinggal kenangan yang membuat aliran air mata duka mengenang
keceriaan adikku yang telah tiada.
“Akhh…” kuusap mata air bening di kedua sudut mataku.
Mereka yang tercinta terpatri dalam
kenangan memori indah telah tiada bersama bayangan keindahan berlatar pohon
rambutan ini. Aku bangga dengan pohon ini. Ingin rasanya , selalu berlama –
lama di sini .
*******
Malam itu kudengar sayup dari dalam kamar ibu berbicara
dengan ayah sehabis kami makan malam. Ayah punya kebiasaan tak beranjak dari
meja makan walau rutinitas itu telah selesai dilakukan.
“Besok pohon rambutan tua di
belakang rumah itu akan ditebang. Ayah sudah menghubungi beberapa teman yang
biasa menebang pohon besar. Mereka menggunakan mesin” ujar ayahku singkat.
“Besok kan ayah kerja” kata ibuku.
“Ayah minta cuti 3 hari, sekalian
nanti halaman belakang dibersihkan dari sisa-sisa tebangan pohon.Pohon itu kan
besar, jadi mungkin perlu beberapa hari membersihkannya, setelah mereka tebang
“ jawab ayahku
Aku pun melepaskan buku catatan
fisikaku dan bergegas ke dapur. Mereka berdua memandangku. Wajahku pucat dengan
nafas pendek memburu berkejar-kejaran satu helaaan dengan helaan berikutnya.
Udara yang keluar dari hidungku terasa panas tak percaya.
“Santi, ada apa…” ujar ibuku
melepaskan piring yang sedang dicucinya.
“Ada apa, Nak!” tambah ayahku.
Mulutku terasa terkunci. Ribuan kata di rongga mulutku
seakan berebut ingin keluar dan tak mau
antri satu per satu. Yang terdengar hanyalah napas pendek dan rongga dadaku
yang penuh sesak oleh jutaan tanda tanya.
“Nak, ada apa…?” tanya ayah sambil
bergegas menghampiriku yang hanya tiga langkah dari depannya berdiri. “Bu,
ambil air..”
Seteguk air putih mengalir di permukaan lorong
kerongkonganku. Membuatku agak lega, dan mulai mengatur napas normal
pelan-pelan.
Mereka berdua terdiam dan saling
pandang khawatir bercampur takut dan rasa trauma. Pandangan yang pernah kulihat
saat adikku menarik napas perlahan dan pendek-pendek mengikuti irama jantungnya
yang cepat saat tepat tengah malam setahun yang lalu.
“Nak, bicara…” ibu menguncang
tubuhku.
Aku tersentak berusaha menenangkan diri. Sambil menarik
napas pelan dan mengeluarkan perlahan.
“Ayah akan menebang pohon rambutan
itu” ujarku terbata sambil mengangkat lemah jari telunjuk yang kuarahkan ke
sudut ruang dapur tepat pohon itu berdiri.
“Ya, Santi” jawab ayahku singkat.
“Jangan, Yah” ujarku sedih.
“Mengapa, ada apa Santi. Menebang
pohon itu biasa. Lagipula Ayah beberapa kali diberitahu oleh orang untuk
menebang pohon itu. Pohon itu membawa keburukan bagi keluarga kita. Kamu ingat
Santi, dulu kakekmu sakit setelah bermain denganmu di bawah pohon itu menjelang
sore. Tiga hari kemudian meninggal. Kemudian menyusul nenekmu yang selalu
sakit-sakitan karena tak tahan ditinggal kakek. Pohon itu pohon terlarang ”
bela ayah.
“Yah, jangan tebang, Yah… Santi
mohon” pintaku lemah.
Ayah hanya diam. Dan berlalu ke kamarnya.
*****
Selama berada di sekolah,
perasaanku tak seperti biasanya. Pulang cepat, itu keinginanku. Waktu seolah terasa
lama sekali berjalan. Pikiranku hanya terfokus pada pohonku, pohon rambutan
kesayanganku.
*****
Kupacu lariku sekuat tenaga, ingin
terbang rasanya. Terengah kugapai halaman depan rumah. Penuh selidik langsung
perlahan berjalan ke belakang rumah.Dan … ternyata pohon…itupun telah rata
dengan tanah.
Pandanganku langsung kabur. Otakku berputar-putar tak
menentu. Kugapai dinding dapur rumah dengan tangan kiriku untuk menopang
tubuhku yang gontai lemas, tak berdaya. Tubuhkupun berangsur perlahan rata
dengan tanah.
Gelap…seketika....
*****
Akupun membuka kelopak mata
perlahan. Yang pertama kulihat adalah ibuku yang matanya merah berair, tanda ia
sudah menangis agak lama. Kemudian ayah dan beberapa orang paman dan bibiku.
Terasa muka lengan sikuku sakit. Ternyata di situ ada jarum infus yang
mengalirkan cairan bening ke dalam tubuhku. Hidungku ditempeli semacam benda
kecil dengan tabung transparan yang bergelembung di sisi kiriku. Ternyata aku
telah dua hari di rumah sakit. Sehari kemudian aku keluar.
*****
“Pohon itu pohon terlarang, Santi.
Begitu kata orang-orang tua di kampung ini. Coba kamu ingat kepergian adikmu
sehari setelah kau ajak bermain di bawah pohon itu. Ia meninggalkan kita sehari
setelah itu” ayah berujar saat beberapa hari aku pulang dari rumah sakit.
Setahuku adik dan aku memang hampir
setiap hari bermain di bawah pohon itu, apalagi saat pohon itu berbuah. Guru
agamaku menjelaskan ajal itu ketentuan Allah. Tak disebabkan faktor lain. Tak
ada campur tangan manusia atau makhluk manapun. Tak ada urusan dengan pohon
yang kata ayah merupakan pohon terlarang. Yang jelas aku tak menerima
penjelasan ayah sedikit pun. Tapi aku pun tak berani beradu pendapat dengan
ayah . Aku memang masih berumur 13 tahun, tapi untuk hal-hal sederhana seperti
itu semua orang pun mengerti dan memahaminya. Akupun tak menyalahkan ayahku,
mungkin ia terlalu terpukul dengan kepergian adikku.
Hari-hari kulalui dengan tak seriang hari-hari sebelumnya.
Sepulang sekolah tak bisa aku berteduh di bawah pohon idolaku. Tak bisa aku
membaca sambil melihat tingkah sekelompok burung gereja yang berlompatan
memperebutkan makanan mereka. Tak bisa aku merasakan hembusan angin sore
mengiringi arakan gumpalan awan putih nun jauh di atas sana. Seharian aku
berada di dalam rumah. Aku tak menyalahkan siapa-siapa.
Tiap sore kusaksikan ayah berpeluh
harus mengambir air dengan ember besar di tempat yang agak jauh dari rumah.
Sumur kami yang terletak tujuh meter dari pohon favoritku kering. Mungkin
inilah realisasi teori dari guru biologiku, bahwa pepohonan membantu menyiapkan
stok air di dalam tanah. Kasihan kulihat peluh yang membasahi wajah ayah.
*****
Pohon rambutan kesayanganku
Pohon favoritku
Pohonmu sangat rimbun
Tempat aku berteduh di saat terik matahari
Tempatku berkeluh kesah akan kekesalanku
Tempatku bermain dengan kakek nenek dan adikku
Tempat semua kenangan itu terpatri
Kau seakan menjadi saksi bisu semua kenangan itu
Batangmu yang sangat tinggi
Sering kami gunakan untuk memanjat
Seiring berjalannya waktu
Batangmu menjadi rapuh
Tapi tak pernah menghilangkan kesan kekokohanmu
Sama seperti kenangan itu
Kenangan yang tak akan lekang dimakan waktu
Biarkan semuanya menjadi kenangan indah
Bersama dengan orang yang aku sayangi
Kubaca ulang puisi yang kutulis
semasih duduk di bangku sekolah dasar, saat indah terbayang bersama kakek nenek
dan adik mungilku tersayang di bawah pohon rambutan itu. Tapi akhirnya
lama-kelamaan kusadari pohon itu bukan pohon terlarang untuk ditebang. Bukan
pohon terlarang untuk diratakan dengan tanah . Semua kenangan biarlah selalu
hidup di sanubariku lengkap dengan pohonnya. Tapi yang jelas tidak ada hubungan
kehilangan orang yang kami cintai dengan pohon itu. Semua urusan ALLAH. Ayahpun
akhirnya bertobat untuk hal itu. Aku bahagia dan tenang.
Tengah malam itu napasku berat,
jantungku berdebar cepat. Darahku mengalir cepat diseluruh permukaan nadiku.
Kudengar sayup ayah dan ibuku menangis keras memelukku bergantian. Air mata
mereka yang hangat, sehangat limpahan sayang yang kurasakan selama ini. Suara
mereka semakin keras.
Gelap…
Gelap…
Gelap…
“Kak Santi…Kak Santi…!” suara yang selalu kurindukan sayup
terdengar.
Dari kejauhan …. bn
Adikku berlari kecil meghampiriku, mengajakku bermain di
bawah pohon itu. Kurangkul, kupeluk ia erat-erat….
*****




