Kejadian ini bermula pada saat adikku menginjak umur 5 tahun . Aku merasa tersisih tak ada lagi waktu untukku , tak ada lagi perhatian penuh kepadaku , tak ada lagi kecupan manis di pipiku , tak ada lagi yang mengajariku belajar , tak ada lagi yang mengajakku pergi kemana – mana . Aku tahu umurku sudah 12 tahun tapi aku masih membutuhkan kasih sayang , aku tahu sekarang perhatia kalian sudah terbagi dua aku dan adikku . Jika aku membayangkan masa kecilku sangat indah bermain , belajar , perhatian semuanya penuh kepadaku , di keccup , di peluk . Bagiku kejadian di masa kecil itu adalah pengalaman yang tak terlupakan selamanya.
Mengapa ia harus lahir , mengapa dia merebut semua kebahagiaanku , semua perhatianku . Adikku selalu menyakitiku selalu menghinaku . Ayah dan ibuku tak pernah mengerti kemarahanku adalah ungkapan perasaanku ungkapan akan aku yang haus akan kasih sayang, yang haus akan perhatian yang dulu mereka berikan kepadaku .
Pada suatu hari kami akan berjalan – jalan. Mereka selalu meminta pendapat adik, tak pernah aku. Mengapa selalu dia , dia , dan dia. Aku ini anak kalian juga, anak kandung kalian. Aku juga darah daging kalian . Kadang jika aku melihat temanku yang selalu diperhatikan oleh orang tuanya, aku merasa iri . Ayah ibu dengarkanlah aku, dengarkan anakmu ini .
Kalian tak pernah menanyakan hasil ulanganku , bagaimana pelajaranku di sekolah . Memang bagi kalian itu tidak perlu, tapi bagiku itu sangat aku butuhkan. Aku butuhkan sebagai bukti kasih sayang kalian . Jujur aku lebih nyaman berada di rumah orang lain daripada di rumahku sendiri . Kalian tak pernah tahu atau pun mencari tahu kenapa tak pernah ada senyuman di wajahku. Tak pernah ada keceriaan diwajahku .
Kalian tak pernah tahu bagaimana perasaanku. Apakah aku sedih atau senang, tak pernah kalian mengerti itu . Aku melihat kalian lebih memberikan perhatian kepada orang lain dibandingkan anak kandungnya, anak pertamanya, darah dagingnya . Oh, Tuhan mengapa aku semalang ini. Mengapa Engkau biarkan aku begini ?
Aku senang hidup berkecukupan. Aku senang punya adik. Aku senang punya teman bermain. Tapi aku tak senang bila ia merebut kasih sayang itu . Kasih sayang yang telah aku miliki bertahun – tahun lamanya, direbut begitu saja olehnya
Ketika libur aku memutuskan untuk pergi ke rumah nenek . Di rumah nenek rasanya damai dan tenang . Tak ada lagi omelan… tak ada lagi bentakan . Disana aku mendapatkan apa yang aku inginkan . Rasanya tak ingin pulang tapi aku harus sekolah… aku harus mengejar ketertinggalanku .
Hari ini di sekolah kami diberikan tugas membuat cerpen dan puisi . Kami disuruh memilih salah satu dan akhirnya aku memilih puisi yang bisa menggambarkan perasaanku .
Dengarkanlah aku
Tolong berikan sedikit perhatian kalian kepadaku
Berikan sedikit kasih sayang
Berikan sedikit pelukan
Berikan aku sedikit waktu kalian
Berikan aku solusi atas masalah yang ku hadapi
aku sayang kalian
aku sayang adikku
tapi sekarang aku merasa tersisih
merasa tersaingi olehnya
merasa sedih karena tak diperhatikan lagi
Ayah ibu dengarkan lah aku
Dengarkan tangisan hatiku
Walau hanya dalam sebuah puisi tapi inilah aku yang haus akan kasih sayang kalian
Hari – hari kulalui dengan penuh ketabahan walaupun aku masih sering menangis dalam kesepian . Semua ungkapan perasaanku kuungkapkan dalam beberapa puisi . diantaranya : dengarkanlah aku , tangisan hati seorang anak dan aku menyayangimu tapi jangan rebut itu dariku .
Puisi – puisi itu selalu aku baca jika aku sedang merasakan sedih dan sedang ada masalah . Di balik senyumku terdapat berjuta masalah tersimpan . aku selalu mencoba sabar menghadapi semua ini menghadapi semua masalah ini . sampai suatu saat ketika itu adikku menggangguku istirahatku. Pada saat itu aku baru pulang sekolah ,aku sangat lelah , seluruh badanku sakit . Tanpa sadar aku menyuruhnya pergi dari rumah , kemudian ia menangis dan mengadu kepada ayah dan ibu .
Tiba – tiba ayahku sudah berada di depanku , kemudian langsung menamparku . aku menangis dan berlari masuk ke kamar serta mengunci pintu . Ayahku menggedor pintu, tapi tetap saja tidak aku buka . aku menangis , dan merasa tak sanggup mengalami ini semua . Sampai akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari rumah .
Di dalam kamar aku telah mengemasi seluruh barang – barang yang aku butuhkan . tapi ada suatu keganjalan di hatiku, dan akhirnya aku tak jadi pergi . Akhirnya aku menceritakan semua ini kepada sahabat terbaikku . Aku banyak mendapat banyak saran darinya , dan akhirnya aku menambah tingkat kesabaranku .
Pada suatu hari kami akan pergi jalan – jalan. Ketika aku sedang berpakaian, aku mendengar suara mobil. Aku langsung mengintip ke jendela …tapi ternyata aku di tinggal pergi . Aku sangat kesal dan hampir saja jam tanganku pecah karena aku lempar .
Ternyata hidup itu tak mudah, harus selalu tabah dan sabar . Aku ingin hidupku lebih berarti karena hidup di dunia sementara , tapi aku tak bisa melakukan hal ini .
Hari ini aku bangun agak kesiangan padahal, aku harus melakukan pekerjaan rumah pada pagi hari . Ayahku langsung menyuruhku melakukan perkerjaan rumah seperti : melipat baju dll . Ketika aku sudah selesai melakukan pekerjaan rumah itu aku tidak diberi sarapan dan akhirnya aku makan mie goreng di sekolah .
Ketika berada di sekolah aku tidak konsentrasi untuk belajar . rasanya tiap detik ingin menangis . Tisu sebungkus sudah habis untuk menghadang air mataku . Ayah …Ibu… aku rindu kasih sayang kalian, dan… adik ,kenapa kamu harus lahir . Jika aku berani akan kuungkapkan .
Namun, sayang… semua itu hanya impian belaka. Hal itu tak kan pernah terwujud , Kalaupun itu terwujud, … entah kapan . Aku hanya ingin di berikan perhatian , diberikan kasih sayang . Aku selalu berdoa kepada Tuhan semoga ini cepat berakhir .
Ketika itu aku dan adiku sedang bermain sepeda , tiba – tiba bruk …….. ternyata adikku terjatuh aku tertawa terbahak – bahak dan ia menangis . Ketika aku mau menolongnya ibu sudah berdiri di ambang pintu dan membawa sebuah kursi plastik . tiba – tiba Ibu langsung melemparkan kursi itu kepadaku . Aku berhasil menghindar tapi sepedaku jatuh terhempas dan rusak .
Aku berlari masuk ke dalam kamar . Aku menangis karena dua hal. Yang pertama karena Ibuku tak pernah bisa menyayangiku, dan hal kedua karena sepedaku rusak , padahal sepeda itu tak mudah mendapatkannya . Oh, Tuhan apakah di dunia ini benar – benar tak ada yang menyayangiku . Mungkin akan lebih baik aku tak pernah ada di dunia ini .
Malam ini aku sendiri merenungkan tentang masa kecilku dahulu. Ya, Tuhan apakah masa kecil itu bisa terulang lagi ? Aku masih ingin merasakannya . Dan, pada akhirnya aku memutuskan untuk izin beberapa hari dari sekolah karena aku ingin menenangkan diriku di rumah nenek . Pada saat itu aku mengalami demam yang sangat tinggi dan aku dibawa kerumah sakit tapi bukan dengan nenek tapi oleh bik Iyem orang yang membantu nenek di rumah .
Sewaktu di Puskesmas Bik Iyem bercerita tentang orang tuaku. Katanya, aku itu bukan anak yang di inginkan oleh orang tuaku . mendengar Bik Iyem berkata seperti itu, aku semakin sedih . Hatiku teriris – iris mendengarnya. Kata – kata Bik Iyem selalu terngiang di telingaku . Malam harinya aku menangis dan tak bisa tidur sehingga pada pagi harinya mataku bengkak .
Aku tak mau nenek tahu bahwa mataku bengkak, dan akhirnya aku memutuskan untuk tidak keluar kamar pada saat itu . Aku membuka semua album yang ada di rumah nenekku . Banyak foto yang bergambar aku , Ayahku dan Ibuku . Oh Tuhan, kapan ini bisa kembali lagi seperti semula . Aku berusaha menahan air mataku . besoknya aku kembali pulang ke rumah dan bersekolah .
Aku memohon padamu Tuhan, tolong bimbinglah aku untuk menghadapi segala cobaan dan penderitaan ini . Pada suatu hari aku, menyadari sedikit perubahan sikap ayah kepadaku. Dia mulai memperhatikanku, tapi… mungkin tak sebesar yang dahulu . tapi dari matanya aku belum merasakan apa yang ingin kurasakan selama ini .
Tapi saat itu aku mulai mengerti apa artinya hidup. Mulai mengerti apa itu kesabaran, dan aku akan melakukan itu seumur hidupku . Aku akan melakukan apa yang bisa aku lakukan untuk mengubah perhatian dan kasih sayang kalian kepadaku .
Hari – hari kembali aku lalui dengan keceriaan tapi walupun begitu sikap Ayah dan Ibuku masih tetap saja dingin dan mereka masih memberikan perhatian sepenuhnya kepada adik .
Yang aku inginkan hanyalah perhatianmu , hanyalah kasih sayangmu , berikan aku sedikit waktumu , berikan aku sedikit kecupan , berikan aku sedikit pelukan . hanya itu … hanya itu yang aku minta jika aku berani mungkin akan kuungkapkan semuanya entah kapan . Ayah …Ibu… dengarkanlah aku . Aku mohon jangan pernah bersikap dingin lagi padaku .
Mungkin hanya ini yang ingin aku ungkapkan jika kalian ingin mendengarkanku . walaupun hanya ungkapan perasaan dalam sebuah tulisan tapi tolong dengarkanlah aku .
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




0 komentar:
Posting Komentar